Tanggal :27 January 2022

Teknologi pada tahun 2050: akankah itu membantu umat manusia atau sebaliknya? Part 1

Di tengah dampak bencana perubahan iklim, kecerdasan buatan dapat mwujudkan perbedaan antara masa depan yang layak huni atau masa depan distopia. Futurisme dapat digambarkan seperti bak alu penculi dukil, jika berhasil, maka akan memberikan hasil yang efektif, jika gagal maka akan sangat menghasilkan hal yang sia-sia.

David Adams mengetahui risiko ini ketika dia menulis tentang masa depan teknologi di Guardian pada tahun 2004,  bahkan mengutip prediksi yang sama sebagai contoh bagaimana bisa serba salah. Pada tahun 2020, Adams tentu saja melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada Watson. Ketika dia melihat ke depan ke hari ini, dia menghindari banyak perangkap prediksi teknologi: tidak ada janji tentang mobil terbang atau teknologi sci-fi seperti teleportasi atau perjalanan yang lebih cepat dari cahaya.

Namun dalam beberapa hal, prediksi tersebut terlalu pesimistis. Teknologi benar-benar telah membuat lompatan besar dalam 16 tahun terakhir, tidak ada yang lebih jelas dari AI. menurut Adams untuk menjelaskan mengapa robot tidak mungkin berinteraksi dengan manusia dalam waktu dekat adalah otak kecerdasan buatan tidak dapat mengatasi perubahan dan peristiwa yang tidak terduga.

Menurut Paul Newman, yang dulu dan sekarang menjadi ahli robotika di Universitas Oxford, pada dasarnya sangat sulit untuk membuat robot membedakan antara gambar pohon dan pohon asli. Untungnya, Newman membuktikan pesimismenya sendiri tidak beralasan. Pada tahun 2014, ia ikut mendirikan Oxbotica, yang diharapkan dapat memecahkan masalah yang disebutkannya, dengan membuat dan menjual teknologi mobil tanpa pengemudi ke produsen kendaraan di seluruh dunia.

Jika kita beralih dari mengkhawatirkan detail, ada dua poin utama dalam prediksi 2020: satu tentang teknologi, yang lain tentang masyarakat.

Sumber : tekno.kompas.com

Para pecinta gadget dapat menggunakan satu keypad untuk mengoperasikan ponsel, PDA [tablet] dan pemutar musik MP3, jam tangan, pager, dan radio menjadi satu . Gagasan konvergensi dan konektivitas dari Adamns ini lebih besar antara elektronik dan pribadi daripada pengguna sendiri adalah benar. Tapi ada loophole yang sangat spesifik dalam prediksi ini yaitu smartphone

Setelah setengah abad, sulit untuk memahami bagaimana semua perangkat tunggal bisa terwujud, tetapi hanya tiga tahun setelah Adams menerbitkan karyanya, iPhone diluncurkan dan mengubah segalanya. Lupakan untuk membawa-bawa pemutar MP3 terpisah karena di tahun 2020, orang bahkan tidak membawa kamera, dompet, atau kunci mobil terpisah.

Gagal meramalkan smartphone adalah sebuah kekhilafan terhadap kemajuan teknologi. Tetapi poin lain yang hilang adalah tentang bagaimana masyarakat akan menanggapi kekuatan yang berubah. Prediksi tahun 2004, pada dasarnya optimis. Adams menulis tentang data kesehatan biometrik yang dikirimkan ke komputer dokter yaitu tentang mesin cuci yang secara otomatis mengatur servisnya sendiri berdasarkan ketersediaan di “electronic organizer” dan tentang chip identifikasi frekuensi radio (RFID) pada pakaian yang memicu iklan khusus atau memprogram telepon berdasarkan lokasi pengguna berada. 

“ Hilangnya privasi akan sangat sulit bagi orang-orang, kami belum menemukan cara untuk mengatasinya,” salah satu orang yang diwawancarai Adams mengakui, ketika menjelaskan teknologi pada tahun 2020. Tetapi jika menjelaskan apa fungsinya, berapa banyak informasi yang diberikannya dan ke mana ia pergi dan bahwa keuntungannya adalah tidak perlu menunggu lama dalam antrean di supermarket, tidak perlu mengantri untuk membeli tiket dan akan ada banyak orang yang mengambil keuntungannya. Faktanya, selama satu setengah dekade terakhir, sebagian besar orang tidak pernah diberi pilihan untuk menerima perubahan, dan semakin jelas bahwa banyak dari mereka tidak akan pernah melakukannya jika mereka memahami apa yang menjadi resiko dari perubahan ini. 

Tapi ada kekuatan yang menguntungkan yaitu internet jauh lebih mengakar sekarang daripada di tahun 2004, dan sementara efeknya yang kacau pada kehidupan kita tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, setidaknya tidak dapat diprediksi. Namun dunia berubah selama 30 tahun ke depan, itu bukan karena lebih banyak orang Inggris atau Amerika yang mendapatkan telepon, smartphones atau teknologi lainnya.

Sumber : www.tribunnews.com

Prediksi lain bisa sesederhana mengikuti garis tren hingga kesimpulan logisnya. Pada tahun 2050, peralihan ke mobil listrik sebagian besar akan selesai, setidaknya di negara maju, serta di negara-negara berkembang, seperti China, yang mulai memprioritaskan kualitas udara daripada mekanisasi murah.

Lalu apa yang akan terjadi pada diri kita, dan humanity di masa mendatang? Adakah solusi yang tepat dalam menghadapi dan mempersiapkan diri dengan perubahan teknologi yang sangat rapid dan tidak bisa diimbangi dengan sumber daya manusianya? Jangan lupa untuk membaca part 2 dari Smart nation dimana akan dibahas secara lebih mendalam mengenai perubahan dan  posibilitas terbaik yang akan terjadi pada manusia di 2050.

Penulis : Diva Maharani | Ilustrasi : Akbar Nugroho

Referensi:

  1. https://www.theguardian.com/world/2004/sep/18/2020.davidadam 
  2. https://www.theguardian.com/sustainable-business/2017/apr/13/driverless-cars-will-make-our-roads-safer-says-oxbotica-co-founder 
  3. https://www.theguardian.com/technology/2017/jun/29/iphone-at-10-how-it-changed-everything
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.