Tanggal :3 December 2022

Rumah Dome: Implementasi Rumah Tahan Gempa di Sleman, Yogyakarta

Pasca gempa bumi yang mengguncang kota Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 mengakibatkan kerusakan yang terjadi di mana-mana. Banyak sekali rumah yang hancur hingga rata dengan tanah, dan mengakibatkan masyarakat kehilangan harta benda. Salah satu daerah di Yogyakarta tepatnya berlokasi di Dusun Sengir, Kelurahan Sumberharjo terdapat sebuah perkampungan kecil di lereng bukit bernama Dusun Nglepen yang mengalami kerusakan sangat parah akibat gempa bumi tersebut. Melihat masalah tersebut, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta bersama para stakeholder merancang sebuah bangunan dome yang diimplementasi dari negara-negara maju. Rumah dome merupakan rumah bundar yang secara keseluruhan terbuat dari beton yaitu campuran antara pasir dan semen dengan rangka besi dan tidak menggunakan atap (Nalurita, 2008). Rumah Dome tersebut dikembangkan oleh WANGO untuk membantu korban bencana alam di seluruh dunia. WANGO adalah World Association of Non Governmental Organizations yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat di Amerika Serikat. Organisasi ini memberikan bantuan khusus berupa Rumah Dome di seluruh dunia yang selanjutnya diberi nama Domes For the World (DFTW) yang artinya Rumah untuk Dunia.

Rumah dome yang berada di Dusun Nglepen merupakan satu-satunya rumah dome yang berada di Asia Tenggara. Proses pembangunannya dimulai pada bulan September 2006 selesai bulan April 2007 dan diresmikan pada tanggal 29 April 2007. Diresmikan oleh Menteri pemukiman penduduk pada waktu itu. Tanggal 30 April 2007 mulai ditempati oleh warga (Nalurita, 2008). Setiap rumahnya berukuran 38.5 m². Ruang di dalam rumah dome ini meliputi 1 ruang tamu, 2 ruang tidur, 1 dapur, dan 1 ruang serbaguna yang berada di lantai 2, sedangkan khusus untuk keperluan kamar mandi berada di rumah dome MCK yang sekaligus berfungsi komunal untuk 1 blok rumah dome. Seiring berjalannya waktu, rumah dome ini mengalami transformasi. Mayoritas transformasi yang terjadi yaitu berupa penambahan ruang-ruang di luar rumah asli, sedangkan pada rumah asli sama sekali tidak terjadi perubahan atau penambahan (Raviandaru, dkk, 2018).

Sumber : dekoruma.com

Perancang rumah dome yang kini menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Nizam, mengatakan rumah dome di New Ngelepen merupakan bantuan dari organisasi internasional yang mewadahi seluruh LSM di dunia, WANGO dan Domes for The World (DFTW). Kepada Tirto (https://tirto.id/), ia mengatakan bahwa salah satu model rumah tahan gempa ini merupakan bentuk yang sangat stabil dan ideal sebagai bangunan tahan gempa. Bangunan ini mirip dengan bentuk telur ayam yang sangat kuat meski kulitnya tipis. Teknologi yang dikembangkan DFTW dengan sistem cetak di tempat ini menggunakan prinsip seperti balon yang difungsikan sebagai cetakan atau bekisting rumah. Menurut Nizam, selain rumah dome, sudah banyak model rumah tahan gempa lain yang sudah dikembangkan oleh anak bangsa, baik model rumah sederhana maupun bangunan gedung. Bahkan, bangunan tradisional di Indonesia sudah banyak yang menggunakan prinsip bangunan tahan gempa, dilansir dalam berita (https://tirto.id/). Selain digunakan sebagai rumah penduduk, rumah dome yang terlihat unik ini dijadikan sebagai wisata untuk ber-swafoto dan sebagainya.

Sumber : yangpentinghepi.com

Pada tahun 2016, Perkampungan ini menjadi salah satu desa wisata andalan Sleman. Pengunjung yang masuk ke perkampungan ini langsung disambut deretan rumah berbentuk kubah. Warnanya didominasi putih. Dilansir dalam berita (https://travel.kompas.com/). Salah satu warga di perkampungan yang bernama Widi mengatakan meskipun ukuran rumah tidak terlalu besar, tetapi hidup di rumah dome cukup nyaman. “Saat pertama kali pindah, rumah ini kami tempati berempat dan cukup nyaman,” ujarnya (https://travel.kompas.com/). 

Diharapkan nantinya akan tersebar luas rumah dome atau rumah anti gempa lain di daerah rawan gempa untuk meminimalisir kerugian yang sangat besar yang diakibatkan terjadinya gempa. 

Ditulis Oleh Muhammad Sadam

Referensi:

Febrian Ramadan. 2018. Sudah Saatnya Indonesia Mengupayakan Rumah Tahan Gempa. Dalam berita https://tirto.id/sudah-saatnya-indonesia-mengupayakan-rumah-tahan-gempa-cQFl diakses pada tanggal 20 September 2021. 

Nalurita Sari. 2008. “Potensi Pengembangan Rumah Dome Sebagai Daerah Tujuan Wisata Di Kabupaten Sleman, Yogyakarta”, Tugas Akhir, Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pertiwi Made. 2016. Kampung Teletubbies, Kampung Unik dengan Rumah-rumah Tahan Gempa. Dalam berita https://travel.kompas.com/read/2016/05/27/190500527/Kampung.Teletubbies.Kampung.Unik.dengan.Rumah-rumah.Tahan.Gempa?page=all diakses pada tanggal 20 September 2021. 

Raviandaru Dandi, dkk., 2018. “ Tipologi Transformasi Ruang Bangunan Rumah Dome Pasca Gempa di Prambanan, Sleman, Yogyakarta”, Jurnal Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), Universitas Gadjah Mada.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »