Tanggal :2 July 2022

Pirolisis Atasi Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Minyak

Penggunaan plastik tak lepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Sifatnya yang kuat dan ringan membuat plastik praktis untuk digunakan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyebut penggunaan kantong belanja plastik sekali pakai di DKI Jakarta turun 82 persen. Meski telah mengalami penurunan, harus tetap dilakukan pengawasan terutama pada pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat.

Seperti yang telah diketahui, plastik merupakan salah satu jenis makromolekul yang terbentuk melalui proses polimerisasi. Polimerisasi adalah proses penggabungan beberapa molekul sederhana (monomer) melalui proses kimia menjadi molekul besar (makromolekul atau polimer). Plastik merupakan senyawa polimer yang unsur penyusun utamanya adalah Karbon dan Hidrogen. Untuk membuat plastik, bahan yang sering digunakan salah satunya adalah Naptha, yaitu bahan yang dihasilkan dari penyulingan minyak bumi atau gas alam.

Plastik sulit diurai oleh mikroorganism, maka ketika dibuang ke tanah akan menyebabkan mineral-mineral dalam tanah baik organik maupun anorganik semakin berkurang, hal ini menyebabkan jarangnya fauna tanah, seperti cacing dan mikorganisme tanah, yang hidup pada area tanah tersebut, dikarenakan sulitnya untuk memperoleh makanan dan berlindung. Selain itu kadar O2 dalam tanah semakin sedikit, sehingga fauna tanah sulit untuk bernafas dan akhirnya mati. Ini berdampak langsung pada tumbuhan yang hidup pada area tersebut. Tumbuhan membutuhkan mikroorganisme tanah sebagai perantara dalam kelangsungan hidupnya (Ahmann D dan Dorgan J R, 2007).

The National Plastic Action Partnership (NPAP) mencatat, ada sekitar 4,8 juta ton sampah plastik per tahun di Indonesia tidak terkelola dengan baik, seperti dibakar di ruang terbuka (48%), tak dikelola layak di tempat pembuangan sampah resmi (13%) dan sisanya mencemari saluran air dan laut (9%). Namun, ada kabar yang cukup baik bahwa Pertamina melalui Fungsi Innovation & New Venture (INV) kini sedang melakukan riset lanjutan mengenai konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak, yaitu dengan metode pirolisis.

Gambar: Mesin Pirolisis Plastik Limbah
Sumber: indonesian.alibaba.com

Pirolisis adalah dekomposisi bahan kimia organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau reagen lainnya. Dimana material mentah akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi gas. Dari proses pirolisis dapat menghasilkan produk berupa bahan bakar padat (charcoal/arang) yaitu karbon, cairan (biooil) berupa campuran tar dan beberapa zat lainnya serta gas (fuel gas) berupa karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan beberapa gas yang memiliki kandungan kecil.

Umumnya proses pirolisis berlangsung pada suhu di atas 300°C dalam waktu 4-7 jam. Namun keadaan ini sangat bergantung pada bahan baku dan cara pembuatannya, Demirbas (2005). Temperatur pirolisis untuk mereduksi sampah dicapai secara optimal. Motode pirolisis diharapkan mampu mengurangi sampah plastik akibat konsumsi plastik di Indonesia terus meningkat dengan kenaikan rata-rata 300 ton sampai 400 ton per tahun.

Penerapan metode pirolisis yang dikembangkan dengan baik, seiring berjalannya waktu akan membantu mewujudkan Smart Environment yang merupakan salah satu pilar Smart City. Mengingat bahwa sasaran dari Smart Environment adalah mewujudkan tata kelola ramah lingkungan yang baik, bertanggung-jawab, dan berkelanjutan.

Pirolisis telah dilakukan salah satunya oleh warga Sumbermulyo, Bambanglipuro Bantul (BBM) bersama tim peneliti dari Universitas Janabadra (UJB), kini warga bisa memanfaatkan sampah untuk meningkatkan perekonomian. Teknologi pirolisis tersebut sudah dilakukan cukup lama hampir sepuluh tahun, sehingga sudah banyak penyempurnaan dari produk teknologi. Menurut Syamsiro, timnya telah merancang mesin dengan kapasitas 150 liter untuk memproses sampah plastik pada suhu tinggi sekitar 500 derajat celsius menjadi BBM dengan metode perengkahan di mana rantai karbon panjang plastik akan dipotong menjadi lebih pendek sehingga menghasilkan BBM ketika didinginkan, hal ini dikatakan oleh Dr Mochamad Syamsiro, peneliti UJB.

Ditulis oleh Wanda Marissa & Arsy Eric

Sumber:

  1. https://fin.co.id/2021/06/24/ngeri-sampah-plastik-di-indonesia-capai-48-juta-ton-per-tahun/
  2. https://www.pertamina.com/id/news-room/energia-news/apa-itu-pirolisis-bisa-ubah-sampah-plastik-jadi-bbm
  3. https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/4588842/jakarta-masih-hadapi-setumpuk-masalah-sampah-walau-penggunaan-kantong-plastik-berkurang-drastis
  4. https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/bantul/warga-sumbermulyo-bantul-ubah-sampah-plastik-jadi-bbm/
  5. Permana, Y. A., Mulyadi, S., Sutjahjono, H., & Rosyadi, A. A. (2019). PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU PEMANASAN PADA PROSES. Jurnal ROTOR, Volume 12 Nomor 2, 1.
  6. Purwaningrum, P. (2016). UPAYA MENGURANGI TIMBULAN SAMPAH PLASTIK. JTL Vol 8 No.2, 142.
  7. Ridhuan, K., Irawan, D., & Inthifawzi, R. (2019). Proses Pembakaran Pirolisis dengan Jenis Biomassa. Jurnal Program Studi Teknik Mesin UM Metro TURBO Vol. 8 No. 1, 72.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »