Tanggal :2 July 2022

Pengembangan Teknologi Irigasi Hemat Air Sebagai Bentuk Sustainable Technology

Gambar 1. Design By: Sumanto

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan dalam kehidupan bagi semua makhluk hidup. Semakin meningkatnya kebutuhan air dalam rangka intensifikasi dan perluasan areal persawahan, serta terbatasnya persediaan air untuk irigasi dan keperluan-keperluan lainnya, terutama pada musim kemarau, maka penyaluran dan pemakaian irigasi harus dilaksanakan secara lebih efisien dan efektif untuk meningkatkan hasil pertanian diperlukan teknologi terkait pendistribusian air yang efektif di samping mengembangkan jenis atau mutu tanaman. Kehilangan air irigasi yang umum terjadi pada suatu areal pertanian selama pemberian air yaitu pada aliran permukaan (http://elearning.litbang.pu.go.id/). 

Air di bumi mengalami sirkulasi yang terus-menerus, yaitu penguapan, presipitasi, dan pengaliran keluar. Sementara itu, menurut Schwab dkk (1997), sampai saat ini hujan merupakan satu-satunya sumber yang praktis untuk persediaan air segar yang dapat diperbaharui pada penggunaan di bidang pertanian, industri, dan domestik (Tribowo, 2014). Di Indonesia, irigasi sederhana dan irigasi hemat air yang dilakukan oleh petani sampai saat ini banyak dilakukan di beberapa tempat, khususnya yang mempunyai kearifan lokal dan bisa membangun jaringan irigasi seperti Subak. Tetapi ada juga petani rajin yang belajar dari pengalaman secara terus menerus yang pada akhirnya mempunyai kemampuan dapat meningkatkan pengetahuannya dalam membangun jaringan irigasi (Sutrisno dan Heryani, 2019). 

Gambar 2. Sumber : webparx.com

Permasalahan irigasi hemat air dalam pengembangannya adalah dari sisi manajemen atau pengelolaannya. Pemeliharaan bangunan infrastruktur air dan sumber air memerlukan perhatian bersama. Demikian juga dalam hal pemanfaatan dan pendistribusian air yang memiliki potensi konflik bila irigasi melewati batas wilayah, batas desa atau kecamatan. Pada musim kemarau, air akan sangat diperlukan untuk tanaman, irigasi hemat air akan sangat berperan dalam sistem pertanaman yang dilakukan (Sutrisno dan Heryani, 2019). 

Konflik pemanfaatan air irigasi ini biasa disebut transboundary conflict. Konflik biasanya terjadi karena adanya keluhan dari masyarakat pengguna air di wilayah hilir terhadap wilayah hulu. Transboundary yang menyebabkan konflik penggunaan air yang muncul harus diantisipasi dengan conflict management (Sutrisno dan Nugroho 2018). Upaya pengelolaan sumber daya air pada masa mendatang tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi saja yakni kualitas dan kuantitas. Tetapi harus dilakukan secara terintegrasi, komprehensif dan interdependence. Kebijakan ini didasarkan kepada pendekatan air yang berwawasan lingkungan, perubahan peran pemerintah sebagai fasilitator bukan penyedia (provider), desentralisasi kewenangan pengelolaan dan pengembangan, mengakui HAM atas aksesibilitas air, demokratisasi artinya semua stakeholder mempunyai hak dan kewajiban yang sama (Sutrisno dan Heryani, 2019).

Gambar 3. Sumber : khabarnaamaa.com

Maka dari itu, peran pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menghadirkan teknologi jaringan irigasi perpipaan, sebagai upaya mengatasi permasalahan air akibat dari penggunaan air yang tidak berimbang dan mengantisipasi konflik akibat kelangkaan air. Teknologi ini memiliki manfaat sebagai berikut : 

  1. Air irigasi akan cepat sampai tujuan 
  2. Efisiensi akan lebih tinggi 
  3. Tidak mudah tercemar oleh keadaan sekitarnya 
  4. Volume pembagian air dapat diketahui 
  5. Pemasangan pipa dan bangunan pelengkapnya cukup sederhana dan mudah. 
  6. Menghemat luasan tanah yang digunakan untuk jaringan. 

Teknologi Jaringan Irigasi perpipaan merupakan sistem irigasi yang penyalurannya menggunakan bahan pipa sebagai sarana pendistribusian air yang lebih efisien dan mampu meminimalkan potensi kehilangan air di sepanjang saluran irigasi. Keunggulan teknologi jaringan irigasi perpipaan antara lain; proses pemasangan yang relatif mudah, perawatan yang sederhana, bahan baku mudah diperoleh, dan meningkatkan efisiensi penyaluran menjadi sebesar 98.99 persen serta debit air 17,18 liter per detik (http://elearning.litbang.pu.go.id/).

Gambar 4. Sumber : irigasitetes.wordpress.com

Air yang kita gunakan sehari-hari untuk menunjang kebutuhan hidup tentu harus dijaga dan digunakan sebaik mungkin. Mengingat kelangkaan pasokan air bersih di desa-desa maupun di daerah terpencil lainnya membuat pemerintah mengambil jalan dengan menghadirkan teknologi berkelanjutan untuk menjaga dan memelihara pasokan air agar tetap mengalir dengan sebaik mungkin dan mendistribusikan kepada masyarakat sekitar termasuk para petani di desa-desa. 

Penulis: Sadam Khadafi | Ilustrasi: Sumanto

Referensi:

  1. Editor Artikel (Anonymous). 2018. Teknologi Jaringan Irigasi Perpipaan. Dalam artikel http://elearning.litbang.pu.go.id/teknologi/jaringan-irigasi-perpipaan diakses pada tanggal 30 September 2021.
  2. Heryani, dan Sutrisno. 2019. “Pengembangan Irigasi Hemat Air Untuk Meningkatkan Produksi Pertanian Lahan Kering Beriklim Kering”, Jurnal Sumber Daya Lahan. Vol 13. No 1. 
  3. Sutrisno, dan Nugroho. 2018. “Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Air”.
  4. Tribowo Ismu. 2014. Pengembangan dan Implementasi Teknologi Irigasi Air Hemat Air. Jakarta: LIPI Press
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »