Tanggal :2 July 2022

New global biodiversity goals, apa itu dan bagaimana harus mempertimbangkan pelajaran penting ini

Framework untuk membantu negara-negara mengembangkan strategi nasional sebagai upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam hampir selesai. Apa yang disebut framework new global biodiversity goals ‘pasca-2020’ akan memberikan tujuan dan target untuk membendung dan menghentikan global warming hingga tahun 2050.

Framework ini dikembangkan melalui proses konsultatif yang luas, dilakukan oleh Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati untuk memenuhi tiga tujuannya: melestarikan keanekaragaman hayati, memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan dan melakukannya secara adil. Awal tahun depan, negara-negara diharapkan untuk merundingkan dan mengadopsi versi final dari kerangka kerja tersebut pada 15th conference of parties of the convention (https://www.cbd.int/article/new-dates-cop15-october-2021), yang akan diadakan di China dan akan dihadiri oleh delegasi negara dengan dipimpin oleh kementerian lingkungan.kerangka kerja baru ini dimaksudkan untuk menetapkan tujuan keanekaragaman hayati di semua sektor di bawah payung SDG atau sustainable development goals.

Sementara upaya konservasi dalam dekade terakhir sangat bagus, tidak satu pun dari 20 target Aichi (https://www.cbd.int/sp/targets/)  yang terpenuhi secara penuh. Alasan utamanya adalah bahwa kementerian lingkungan nasional yang merundingkan target memiliki sedikit kekuatan untuk mengatasi penyebab penurunan keanekaragaman hayati – terutama pertumbuhan ekonomi dan populasi. Perubahan iklim merupakan penyebab hilangnya keanekaragaman hayati yang semakin penting.

Alam terus menurun, terlihat dalam hilangnya spesies dan ekosistem yang terus berlanjut dan berkurangnya manfaat dari alam bagi manusia di semua skala. Untuk beberapa dekade mendatang, kita membutuhkan tujuan dan target yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih menarik, dengan rentang waktu yang realistis. Hal ini juga harus mencerminkan kompleksitas alam dan interaksinya dengan manusia.

COVID-19 telah menunda negosiasi keanekaragaman hayati selama lebih dari setahun. Hal ini telah memberikan waktu yang lebih untuk konsultasi dan masukan yang luas dari para delegasi serta para pengamat, termasuk masyarakat umum dan masyarakat adat, kepentingan sektor swasta dan ilmuwan.

Target yang ambisius dan sinergis

Dalam research pertama, hampir 40 ilmuwan dari seluruh dunia mendesak pihak-pihak dalam konvensi untuk mempertimbangkan tiga poin penting untuk melestarikan alam secara efektif.

Pertama, tujuan untuk setiap aspek alam diperlukan karena kompleksitas alam. Sasaran harus mencakup gen melalui spesies hingga ekosistem, serta manfaat yang kita andalkan dari alam seperti makanan, bahan, udara dan air bersih, dan iklim yang stabil.

Kedua, tujuan tidak dapat didefinisikan secara terpisah dengan aspek alam yang sangat terkait dan harus dipertimbangkan. Misalnya, keanekaragaman spesies yang tepat dan fungsinya harus terjamin. Hutan tanaman dengan keragaman rendah yang menangkap karbon atau menghasilkan kayu tidak dapat menggantikan hutan alam dewasa yang menampung ratusan hingga ribuan spesies dan memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Ketiga, hanya ambisi tingkat tertinggi dalam menetapkan setiap tujuan, dan menerapkan semua tujuan secara terpadu, yang akan memberikan peluang realistis untuk ‘membengkokkan kurva’ hilangnya keanekaragaman hayati dalam beberapa dekade mendatang.

Berbagi manfaat dan beban

Sumber : Apahabar.com (Tropis.co)

Penelitian kedua,  berfokus pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dari perspektif Afrika. Pendekatan masa lalu untuk membangun kawasan lindung dalam banyak kasus telah mengasingkan dan secara langsung merugikan masyarakat lokal dan kelompok adat.

Saat ini terdapat ambisi dari berbagai konsorsium pemerintah, LSM, dan kelompok masyarakat sipil untuk lebih meningkatkan kawasan yang dilindungi antara tahun 2030 dan 2050. Untuk melindungi komunitas lokal dan masyarakat adat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kekayaan mereka yaitu dengan mengusulkan pendekatan bersama bumi/lautan bersama yang berfokus dalam membuat konservasi bekerja untuk semua orang. Hal ini tidak hanya dilakukan di daerah yang alamnya masih utuh tetapi, yang paling penting, di mana orang tinggal, bekerja dan bergantung pada alam setiap hari.

  • Sumber : aptika.kominfo.go.id

    Misalnya, di lanskap pertanian pedesaan atau konservasi komunitas nelayan pesisir yang diintegrasikan ke dalam praktik pertanian dan penangkapan ikan dapat memperbaiki kondisi alam secara keseluruhan dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat. 

Panduan baru menunjukkan bahwa di tempat-tempat ini 20% dari area lokal harus berada di bawah habitat asli, atau utuh. Ini cukup untuk memberikan kontribusi paling penting secara lokal dari alam kepada manusia, seperti penyerbukan tanaman, penyaringan air, akses ke spesies liar, dan regenerasi tanah. Jika dilakukan dengan benar, hal ini dapat memenuhi target konservasi keanekaragaman hayati. Secara kritis, fraksi ini perlu mencapai hingga skala terkecil, sehingga masyarakat dapat mengakses manfaatnya.

Fokus pada ‘lanskap yang berfungsi’ hal ini juga mendorong restorasi di mana alam terdegradasi dan restorasinya dapat langsung bermanfaat bagi masyarakat, daripada hanya berfokus pada alam yang utuh di tempat-tempat terpencil dengan sedikit orang, sehingga akan membangun kepercayaan dan komitmen terhadap konservasi secara lokal, karena orang-orang memperoleh manfaat langsung dari alam yang utuh.

Membengkokkan kurva

Sumber : Unsplash.com, Nature is Destroyed

Kedua makalah ini memberikan panduan tentang dua aspek penting untuk keberhasilan konservasi: tindakan keanekaragaman hayati yang efektif dan penargetan yang adil dari tindakan tersebut. Tetapi bahkan hal ini akan gagal jika pendorong utama penurunan alam adalah sistem ekonomi yang berfokus pada peningkatan konsumsi dan pertumbuhan alam yang tidak berbalik pada dekade ini. Ada semakin banyak penggunaan istilah ‘menekuk kurva’ yang diterapkan untuk dan membalikkan penurunan kualitas di alam. Sangat penting bagi manusia untuk belajar  bahwa hal yang dilakukan manusia akan berdampak pada alam. Kerangka new global biodiversity ‘pasca-2020’ yang baru ini juga akan gagal dan tidak mencapai target pada waktu yang ditentukan jika manusia tidak berupaya dalam menjaga alam.

Ditulis oleh Diva Maharani

sumber: 

  1. https://www.science.org/doi/abs/10.1126/science.abe1530 
  2. https://www.science.org/doi/abs/10.1126/science.abh2234?utm_campaign=toc_sci-mag_2021-08-12&et_cid=3880749&et_rid=17045725 
  3. https://www.cbd.int/conferences/post2020
  4. https://cordioea.net/shared-earth-shared-ocean/
  5. https://www.hacfornatureandpeople.org/
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »