Tanggal :14 August 2022

Membangun Sebuah Identitas Daerah: Slogan The Spirit of Java di Kota Solo Sebagai Smart City Branding

Berbicara mengenai kota Solo, tidak terlepas dari budaya tradisionalnya. Dari sisi historisnya, Kota Solo merupakan kota budaya yang berasal dari sebuah desa bernama Solo, desa ini sudah ada sejak abad ke-18, jauh sebelum kehadiran Kerajaan Mataram. Sebagai kota yang sudah berusia lebih dari 250 tahun, Solo memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah, seperti kawasan Kauman dan kawasan Laweyan (Rahajeng, 2007). Kota yang memiliki nama lain Kota Surakarta ini dikenal dalam sektor keuangan, pusat perdagangan dan jasa di wilayah Solo serta penyedia tulang punggung manufaktur yang penting. Kota ini menjadi anak emas. Banyak dana dari pusat untuk pembangunan ekonomi kota Solo, yang menjadikannya sebagai daerah potensial untuk memperluas usaha, membuka peluang bagi investor untuk menanamkan investasinya dan mengembangkan industri sandang, perbankan, dan pariwisata. 

Memasuki abad ke-21 seiring dengan adanya semangat otonomi daerah, setiap daerah harus berkompetisi agar tetap bertahan dengan mengandalkan potensi yang dimilikinya. Pemerintah Solo Raya menyadari perlu adanya sebuah brand yang dapat dijadikan sebuah identitas bagi kotanya. Pada tahun 2007 lahirlah slogan Solo, The Spirit of Java yang bertujuan untuk membangun image kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa dan juga sebagai langkah untuk mempromosikan destinasi wisata sekaligus menarik investor baik dari dalam maupun luar negeri (Rahajeng, 2007).

Sumber: pngitem.com

Kebijakan dengan identitas baru atau city branding dengan slogan Solo, The Spirit of Java terbentuk berdasarkan kesepakatan bersama tujuh kepala daerah serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sekaligus dibentuk perusahaan PT Solo Raya, yang dalam prosesnya bertanggung jawab atas pemasaran dan pelaksanaan programnya. Seiring berjalannya waktu, berkaitan dengan smart branding yang diterapkan kota Solo pada slogan tersebut berimplementasi pada penggunaan teknologi untuk mendukung pariwisata domestik di Pulau Jawa khususnya Kota Solo, seperti penggunaan Augmented Reality pada museum bersejarah dan Keraton Kasunanan Surakarta.

Pada era pandemi seperti ini, merupakan tantangan baru untuk meningkatkan city branding sebuah kota. City branding dibutuhkan oleh sebuah kota agar memiliki keunikan tertentu di mata masyarakat, sehingga kota tersebut memiliki keunggulan dibanding kota yang lain. Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Solo, Retno Wulandari mengatakan “Semua pihak hingga saat ini terus fokus berjuang mengatasi pandemi Covid-19. Itu baik. Namun kita juga perlu memikirkan, sekarang bagaimana caranya membangun city branding di era kenormalan baru. Kota Solo ini nanti mau seperti apa? Agar kita semua bisa lebih siap. Walaupun ada Covid-19, kita tidak boleh berhenti di sini atau sekadar menggelisahkan masalah ini. Show must go on,” (https://www.solopos.com).

Sumber: idntimes.com

Hal lain dikatakan oleh Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah “Sekarang sudah jamannya, Solo itu bersaing dengan Singapura atau kota-kota dari negara lain. Dengan pendekatan CBI (City Branding Index) ini, diharapkan sebuah kota mampu memiliki branding yang baik di komunitas internasional. Persaingan antar kota tidak dalam ukuran besar kota, tapi pada pembeda yang menjadi keunggulannya,” ujar Ginanjar (https://www.solopos.com). Perlu diketahui bahwa CBI merupakan pendekatan  city branding yang saat ini akan diterapkan di kota Solo, pendekatan tersebut meliputi Presence, Place, Potential, People, Pulse, dan Prerequisire

Diharapkan dengan pendekatan CBI tersebut dan city branding “Solo, The Spirit of Java” membuat Kota Solo semakin terkenal, perekonomiannya semakin maju, dan banyak wisatawan yang berkunjung untuk menikmati Kota Solo yang makin indah. Eksistensi Solo sebagai kota besar dengan potensi budaya, perdagangan dan industri-pun makin diakui perlu adanya keterlibatan, kerjasama, dan peningkatan komitmen dari berbagai pihak.

Ditulis Oleh Muhammad Sadam

Referensi:

Rahajeng, Shabrina. 2007. “Solo, The Spirit of Java”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

Jurnalis Solopos.com. 2013. Gagasan: Sisi Lain Spirit of Java. Dalam berita https://www.solopos.com/gagasan-sisi-lain-spirit-of-java-387240 diakses pada tanggal 15 September 2021. 

Sri Prakoso. 2021. Membangun Identitas Kota Solo di Era Kenormalan Baru Seperti Apa Ya?. Dalam berita https://www.solopos.com/membangun-identitas-kota-solo-di-era-kenormalan-baru-seperti-apa-ya-1124665 diakses pada tanggal 15 September 2021.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »