Tanggal :10 December 2022

Implementasi Smart Branding, Tidak Hanya Soal Wisata

Smart branding merupakan salah satu pilar dari pendekatan smart city yang memiliki definisi strategi memasarkan sebuah kota atau wilayah sehingga mampu menarik ekosistem sekitar, baik itu warga, masyarakat umum, ataupun pelaku bisnis. 

Aspek smart branding tidak hanya terbatas pada pengembangan smart branding di area pariwisata. Menurut Hari Kusdaryanto, CIO Citiasia, ekosistem bisnis dan ekonomi kreatif juga menarik untuk dikembangkan. 

Ketika memilih area pariwisata untuk dikembangkan sebagai smart branding, Hari melihat masih banyak daerah yang implementasinya kurang tepat karena masih terlalu fokus pada destinasi yang sebenarnya bisa lebih dari itu.

Hari menjelaskan penilaian smart branding di pagelaran Indonesia Smart Nation Awards (ISNA) pada 17 November 2022 lalu, “Kalau hanya ‘jualan’ air terjun, akan selalu ada air terjun yang lebih indah,” tambah Hari. 

Objek wisata air terjun akan lebih diminati wisatawan jika tersedia amenitas atau fasilitas pendukung yang memadai. “Contohnya perjalanan ke sana mudah, ada tempat ganti yang layak di lokasi, dan lain sebagainya,” tambah Hari mencontohkan.

Keterlibatan masyarakat juga penting dalam menyukseskan smart branding. Hari mengambil contoh Kabupaten Banyuwangi yang berhasil mengajak warga untuk berpartisipasi melalui program Smart Kampung. Melalui program tersebut, warga mendapat akses internet dan literasi digital agar mampu mengembangkan diri.  “Sehingga warga desa atau karang taruna di sana mampu melakukan branding sendiri terhadap kampungnya,” tambah Hari.  

Karena selain memperkaya daya tarik sebuah wilayah, inovasi yang lahir dari warga itu sendiri lebih terjaga keberlanjutannya sehingga pemerintah dapat fokus mengerjakan amenitas besar seperti membuat bandara, pelebaran jalan, dan lain-lain. 

Pemerintah daerah seharusnya juga aktif melakukan kerjasama atau co-creation dengan pelaku usaha. Contohnya untuk menjual produk unggulan UMKM secara online, pemerintah dapat melakukan kerjasama dengan marketplace yang sudah ada. 

“Cara ini lebih efektif dibanding membangun e-commerce sendiri,” tambah Hari. Pemerintah daerah juga bisa mengambil peran dengan memberi kemudahan pengusaha dalam mendapatkan izin usaha atau pendaftaran merek.

Pemerintah daerah lebih baik fokus pada tugas pokok dan fungsinya, seperti kebijakan, infrastruktur, dan literasi warga. Dengan begitu, keberlanjutan inisiatif smart branding pun dapat selalu terjaga. 

Jadi, saat akan menerapkan smart branding sebaiknya sebuah daerah tidak hanya terpaku pada pariwisata dan memperhatikan aspek lain yang bisa menjadi potensi. Jika Anda butuh konsultansi, silahkan kunjungi akun Instagram @citiasiainc untuk informasi lebih lanjut.

Reference

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »