Tanggal :9 December 2022

Digital Assistant: Pengertian, Perkembangan dan Cara Kerjanya

Logo Google Assistant | Sumber: AndroidWaves

“Hey Google”, kata yang sering kita ucapkan untuk menanyakan jadwal, cuaca atau mencari informasi yang kita butuhkan di search engine. Google Assistant dirilis pada 18 Mei 2016 oleh Google. Tak hanya Google, ada beberapa digital assistant lain yang umum digunakan, seperti Cortana dari Microsoft, Siri dari Apple dan Bixby dari Samsung. Digital assistant saat ini sangat akrab dengan Smart People yang lebih senang menggunakan fitur sensor suara dibandingkan harus mengetik di smartphone. Dengan menyebutkan apa saja yang kita inginkan, semua akan langsung tersedia di hadapan kita. Seperti lampu ajaib tanpa batas maksimum permintaan. 

Mainan Radio Rex yang menggunakan perintah suara | Foto: Google Arts & Culture

Walaupun umum digunakan masa kini, tahukah kamu bahwa prototipe digital assistant telah diciptakan pada tahun 1911? Radio Rex adalah mainan pertama yang diaktifkan lewat perintah suara. Ada pula IBM Shoebox yang dirilis pada tahun 1962 silam dan mampu mengenali 16 kata yang diucapkan dan angka dari 0 sampai 9. Selanjutnya, di tahun 1970, ada Harpy yang diciptakan oleh Carnegie Mellon University yang mampu menguasai 1.000 kosakata, setara dengan anak berusia 3 tahun. Dan sekitar tahun 1990-an, teknologi pengenalan suara digital menjadi fitur yang disisipkan dalam komputer pribadi oleh Microsoft, IBM dan Phillips. 

Google Home yang terhubung dengan aplikasi pemutar musik | Foto: Alvaro Rayes, Unsplash

Secara sederhana, digital assistant bekerja dengan memproses suara kita untuk melakukan tugas yang kita inginkan. Dimulai dari proses input suara, lalu teknologi di dalamnya akan melakukan proses Natural Language Processing (NLP) dan digital assistant akan memberikan output berupa suara juga. Jadi, secara umum, asisten digital bereaksi terhadap perintah suara dan memberikan informasi yang relevan kepada pengguna tentang pertanyaan yang dilontarkan. Satu hal yang menarik mengenai teknologi ini adalah sinergi yang terjadi antar software di smartphone. Ketika digital assistant bekerja, beberapa teknologi seperti pengenalan suara, analisis bahasa, dan pengolahan bahasa alami juga ikut aktif.

Ilustrasi biometrika | Foto: Kingland Blog

Dilansir dari media.neliti.com, sistem pada pengenalan suara ini merupakan biometrika, cabang turunan dari ilmu eksakta (matematika terapan) yang sudah berkembang pada beberapa tahun ini. Bidang biometrika mengidentifikasi setiap individu dengan cara melihat ciri-ciri fisiologis dan tingkah laku yang dimiliki oleh setiap individu. Dan salah satu bentuk ciri yang dapat digunakan sebagai pengidentifikasian adalah melalui pengenalan suaranya. Secara teknisnya pengenalan suara atau ucapan (Automatic Speech Recognition/ASR) adalah suatu teknik dan sistem yang memungkinkan komputer agar bisa menerima masukan suara berupa kata yang diucapkan, kemudian mesin akan mencocokan sinyal digital tersebut dengan suara pola tertentu yang tersimpan pada suatu perangkat.

Kalau Smart People, sesering apa menggunakan digital assistant?

Penulis: Mia Patricia | Illustartor: Rizky Sabilurrasyid

Referensi:

  1. https://www.idntimes.com/tech/trend/nena-zakiah-1/perkembangan-digital-assistant-dari-awal-sampai-sekarang
  2. https://media.neliti.com/media/publications/236618-analisis-digital-assistant-versi-cortana-5169c9aa.pdf
  3. https://techno.okezone.com/read/2017/03/31/207/1655796/asisten-virtual-begini-cara-kerja-teknologi-perintah-suara
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »