Tanggal :10 December 2022

Beberapa Teknologi Penanganan Banjir di Sejumlah Negara, Apakah Indonesia Punya?

Akhir-akhir ini, banjir kembali menjadi topik hangat. Terutama, banjir di Jakarta akibat intensitas hujan yang cukup tinggi sejak hari Kamis, 13 Oktober 2022. Selain karena disebabkan hujan, hal yang membuat Jakarta rentan banjir adalah letak geografisnya yang berada di dataran rendah yaitu di antara hulu sungai dan pesisir. Beberapa waktu lalu, Korea Selatan juga dilanda banjir bandang yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.

Lantas, untuk menangani banjir, apa teknologi yang digunakan negara untuk mengatasi banjir?

G-Cans, Tokyo

Bicara soal teknologi, Jepang adalah ahlinya. Jepang memiliki teknologi yang digunakan untuk mengatasi persoalan banjir di Tokyo dengan nama proyek G-Cans.

G-Cans adalah kanal penampungan air bawah tanah di Kasukabe, Tokyo yang memiliki tinggi 2,54 meter atau setara dengan gedung enam lantai. Proyek ini sudah dimulai dari tahun 1993 sampai 2006 dan menghabiskan biaya sebesar US$2,6 miliar. 

Kanal banjir G-Cans memiliki puluhan menara silinder setinggi 70 meter dan memiliki lima ruangan slinder, dan katanya G-Cans ini bisa menampung hingga 13 juta galon air lho!

Thames Barrier, London

Teknologi yang digunakan di Inggris untuk menangani banjir adalah Thames Barrier yang dibangun pada 1974 dan selesai delapan tahun setelahnya. Thames Barrier melintang selebar 520 meter di sungai Thames dan bisa melindungi sekitar 125 meter kota London.

Kanal Thames Barrier terdiri dari 10 gerbang baja dan masing-masing memiliki lubang lebih dari 20 meter dan berat 3.700 ton yang bisa tertutup dan terbuka. Thames Barrier bisa menahan beban air lebih dari 9.000 ton.

Saat terjadi badai atau air pasang, Thames Barrier akan otomatis tertutup berkat adanya sensor yang tertanam di masing-masing gerbang. Tujuan penutupan gerbang ini agar aliran air dari hulu sungai berhenti dan tidak mengalir ke pusat kota.

SMART, Malaysia

Malaysia negara tetangga kita juga memiliki teknologi penanggulangan banjir bernama Stormwater Management and Road Tunnel (SMART). SMART adalah terowongan yang dibangun secara khusus untuk mengendalikan luapan air dari sungai di sekitar kota Kuala Lumpur.

SMART sudah dibangun sejak 2003 dan empat tahun setelahnya terowongan SMART yang memiliki diameter 13,2 meter dan panjang 9,7 kilometer tersebut dianggap cukup efektif mengendalikan bencana banjir di Malaysia karena memiliki wadah penampung air berkapasitas 3 juta meter kubik.

Menariknya, terowongan SMART juga berfungsi untuk mengurangi tingkat kemacetan di Malaysia. Sebab, apabila curah hujan tidak tinggi, terowongan yang pembangunannya dikabarkan memakan biaya hingga Rp 7 triliun tersebut berfungsi sebagai jalan tol bagi pengendara transportasi darat.

Apakah Indonesia Memiliki Teknologi untuk Menangani Banjir? 

Indonesia sendiri sudah mulai menciptakan inovasi-inovasi baru untuk menangani banjir, seperti situs Petabencana.id yang memanfaatkan penggunaan media sosial dalam situasi darurat untuk mengumpulkan, menyortir, dan menampilkan informasi risiko secara waktu-nyata (real-time).

Selain itu, terdapat aplikasi-aplikasi untuk memantau banjir di Indonesia yang mulai berkembang sebagai langkah awal untuk penanganan banjir. Nah, Citiasia pun juga memiliki teknologi canggih untuk mengatasi permasalahan banjir, yaitu fitur water level monitoring (flood management) yang merupakan salah satu fitur dari PJU Pintar yang tidak hanya sebagai solusi penerangan aktivitas di malam hari, tapi juga berfungsi sebagai sensor banjir. 

Jadi, itulah contoh teknologi penanganan banjir di dunia dan juga Indonesia. Jika Anda tertarik dengan fitur sensor banjir dari produk PJU Pintar kami, silahkan kunjungi akun Instagram @citiasainc untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Reference

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »