Tanggal :14 August 2022

Batu Bara Akan Tetap Jadi Primadona Sumber Energi Masa Depan, Intip Alasannya

Selama ini batu bara telah menjadi bahan baku utama penggunaan energi listrik di Indonesia lewat PLTU atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Komoditas tersebut bahkan berkontribusi 38 persen dari total energi di Tanah Air (bisnismuda.id). Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, pembakaran batu bara juga semakin baik, bahkan hampir mendekati zero emission. Selain itu, di masa depan teknologinya juga akan semakin murah. 

Suryo Eko Hadianto selaku Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. meminta agar pemanfaatan batu bara tetap dilakukan seefisien mungkin dan tetap digunakan di masa depan meski maraknya upaya penekanan emisi karbon. “Sebetulnya ini isunya adalah climate change dan emisi karbon. Ini sesuatu yang tidak perlu dibenturkan antara penurunan emisi karbon dan pemanfaatan batu bara,” jelasnya saat webinar, Jumat malam (24/9/2021).

Sumber: hijauku.com

Kini, pemerintah mulai menyusun road map untuk mengoptimalkan PLTU melalui perkembangan teknologi lebih ramah lingkungan. Beberapa di antaranya adalah penerapan carbon capture, utilization and storage (CCUS) yang merupakan satu-satunya teknologi yang dapat menangkap CO2 yang telah dilepaskan ke atmosfer serta carbon capture and storage (CCS) yaitu salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer dan proses pencampuran batu bara dengan biomassa dalam proses pembakaran atau co-firing biomass.

Keberadaan berbagai teknologi nantinya diyakini malah akan menjadikan minat dunia untuk mengonsumsi batu bara semakin besar. Suryo Eko mengatakan bahwa dunia akan kembali menggunakan batu bara. Pasalnya Inggris, Kanada dan Jerman kembali menggunakan batu bara sebagai bahan baku energi listriknya, karena batu bara energi yang relatif murah. 

Batu bara telah menjadi salah satu penyumbang penerimaan terbesar selama ini melalui ekspornya. Selain itu, walaupun masih disubsidi, PLTU sangat berkontribusi pada rendahnya biaya listrik masyarakat. Sehingga menurut Eko, meski terdapat berbagai upaya penurunan emisi karbon, menyingkirkan keberadaan PLTU dianggap bukan cara yang tepat. Karena jika pemanfaatan batu bara tidak dioptimalkan kembali, maka akan ada efek domino yang ditimbulkan. Salah satu efeknya akan dirasa pada aspek penerimaan non pajak.

Mengganti batu bara dengan Energi Baru Terbarukan (EBT) secara masif dianggap dapat meningkatkan tarif listrik. Bila tarif di masyarakat tidak naik dengan perubahan tersebut, maka akan berpengaruh pada subsidi negara untuk energi yang kian membesar. Bagaimana menurut Smart People? Apakah penggantian batu bara dengan EBT merupakan keputusan yang tepat? 

Penulis: Wanda Marissa | Ilustrasi: Arsy Eric

Referensi: 

  1. https://bisnismuda.id/read/4557-myeong/batu-bara-akan-tetap-jadi-sumber-energi-masa-depan-apa-alasannya#react
  2. https://www.google.co.id/amp/s/m.bisnis.com/amp/read/20210926/44/1447024/batu-bara-akan-tetap-jadi-sumber-energi-masa-depan-ini-penjelasannya
  3. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/carbon-capture-and-storage-3-sistem-penangkapan-co2
  4. https://fgmi.iagi.or.id/berita/carbon-capture-utilization-storage-ccus-untuk-menurunkan-emisi-co2-bagaimana-di-indonesia/
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »