Tanggal :19 January 2022

Antisipasi Perubahan Iklim dalam Gerakan Smart City

Gambar 1. Design by: Sumanto

Pada akhir Oktober silam, Presiden Joko Widodo bersama para Menteri menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB atau Conference of the Parties (COP26) yang diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia. Pertemuan tersebut membahas isu penting terkait perubahan iklim yang dialami oleh seluruh negara di dunia. Dalam acara itu, Presiden Joko Widodo berkesempatan berpidato di hadapan para pemimpin negara sahabat, dalam pidato Beliau menyebutkan bahwa di tahun 2030, Indonesia akan mencapai carbon net sink yang semula menyumbang 60 persen gas emisi. Jokowi menyebut, perubahan iklim adalah ancaman besar bagi kemakmuran dan pembangunan global. Maka dari itu, dibutuhkan kerja sama seluruh negara mengatasi hal tersebut.

Indonesia terus berkontribusi atas perubahan iklim yang terjadi, di satu sisi peran aktif kota cerdas yang sudah diterapkan di beberapa kota besar di Indonesia turut membantu dalam mengatasi perubahan iklim. Contohnya pengembangan ekosistem kendaraan listrik, pengelolaan sampah daur ulang, green house, pemakaian solar cell, implementasi smart building, dan penerapan Low Emission Zone (LEZ). Implementasi smart environment ini sejalan ketika energi menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia. Dilansir dalam berita liputan6.com, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, mengatakan akan terus mencermati proyeksi pembangunan kota dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

Gambar 2. Sumber: bmkg.go.id

Basuki memperkirakan, pertambahan penduduk di perkotaan nantinya akan mencapai 60 persen, di mana seluruhnya pasti membutuhkan hunian. Pembangunan tempat tinggal baru tersebut pastinya akan bersinggungan dengan kebutuhan energi. “Kita ketahui setiap hunian itu menggerakan tidak kurang dari 140 industri lainnya. Mau air conditioning, mau hairdryer, mau rice cooker, mau kulkas, pasir, bata. Itu semua membutuhkan energi,” kata Menteri PUPR dalam acara puncak Hari Habitat dan Kota Dunia 2021 secara virtual, Rabu (27/10/2021).

Beliau menambahkan, seluruh pembangunan infrastruktur ke depan juga wajib memperhatikan tanggung jawab untuk menjaga bumi dari ancaman peningkatan gas emisi. Dalam menghadapi ancaman nyata tersebut, Kementerian PUPR disebutnya telah mempersiapkan 8 indikator pembangunan rumah atau kota hijau. Beberapa diantaranya seperti smart city, water resilience city, earthquake resilience city, yang semuanya menuju ke arah pengurangan emisi. Isu dan permasalahan climate change dengan aktivitas manusia saat ini begitu kompleks.

Gambar 3. Sumber : money.kompas.com

Terkait dengan Sustainable Development Goals, konsep kota cerdas merupakan solusi efektif, efisien dan berkelanjutan atas tantangan dan permasalahan yang terus meningkat sehingga hal ini akan dihadapi perkotaan di masa depan, khususnya terkait dengan kota serta permukiman yang berkelanjutan dan penanganan perubahan iklim. 

Penulis: Sadam Khadafi | Illustrator: Sumanto

Referensi

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *