Sensing dalam bahasa yang lebih sederhana mungkin dapat dijelaskan sebagai kemampuan untuk merasakan atau kemampuan penginderaan. Apabila sebuah kota kita asosiasikan sebagai tubuh manusia yang memiliki panca indera, maka dalam konteks pengelolaan kota berbasis smart city, sensing bisa diartikan sebagai kemampuan kota untuk merasakan setiap permasalahan yang terjadi di kota tersebut. Seperti halnya tubuh manusia yang bisa merasakan panas ketika dekat dengan sumber panas, atau merasakan dingin ketika mendekat dengan sumber dingin, atau mampu melihat ada hambatan di depannya ketika berjalan, dapat mendengar suara orang yang berbicara dan lain sebagainya. Maka sebuah smart city juga harus memiliki kemampuan tersebut, tentunya dalam konteks yang terkait dengan kehidupan kota, dan inilah yang disebut dengan sensing dalam smart city.

visiona

Kemampuan kota untuk merasakan gejala masalah yang terjadi contohnya adalah ketika ada kemacetan di suatu ruas jalan, maka kota – melalui sistem yang dibangun di dalamnya – dapat segera mengetahui hal tersebut, dan segera mengirimkan informasi kemacetan tersebut kepada perangkat kota lainnya untuk menyelesaikan masalah kemacetan tersebut. Contoh lain, ketika ada seorang wanita sedang berjalan di sebuah wilayah yang menurutnya rawan tindak kriminalitas, maka ia akan dapat memberikan sinyal, kode atau informasi kepada kota bahwa pada saat tersebut di lokasi tersebut ia memiliki perasaan tidak aman, dan kota mampu merespon informasi tersebut. Atau misalnya terjadi pelanggaran ambang batas pemakaian air tanah di suatu wilayah, maka kota dapat mengetahui informasi tersebut, tentunya dengan sistem yang dibangun di dalamnya.

Lalu sistem apakah yang mampu menjadikan kota memiliki kemampuan sensing tersebut?
Pada dasarnya sistem pemberdayaan masyarakat atau sistem yang memanfaatkan local wisdom dan budaya masyarakat kota setempat dapat dimanfaatkan untuk membangun kemampuan sensing tersebut. Contohnya, musyawarah warga yang dilakukan di tingkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dan sebagainya untuk mengetahui permasalahan warga kota, merupakan salah satu mekanisme untuk membangun kemampun sensing sebuah kota. Atau ketika Kepala Daerah membuka akun media sosial untuk mendengat keluhan warganya, termasuk cara yang bisa digunakan untuk membangun kemampuan sensing tersebut.

Namun seiring dengan semakin tingginya tuntutan bagi kota untuk bisa memberikan solusi secara cepat terhadap setiap permasalahan warganya, maka dibutuhkan sistem yang memanfaatkan teknologi untuk membantu tugas kota tersebut. Untuk itulah teknologi sensing dibutuhkan oleh sebuah smart city, karena tanpa kemampuan sensing yang baik, maka sebuah kota belum bisa disebut sebagai smart city. Dengan memanfaatkan teknologi sensing, maka permasalahan kota dapat segera ditangkap oleh perangkat kota dan dapat ditindaklajuti dengan sangat cepat.

Terkait apa saja teknologi sensing dalam sebuah smart city, akan saya bahas dalam tulisan-tulisan selanjutnya di website ini.

Published by Fitrah Kautsar

Lead Consultant of Citiasia Center for Smart Nation (CCSN)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *